Selasa, 01 November 2011

Mengingat , Transfer dan lupa

·        ANNISA                                          
·        SITI  RAHMITA                                      
·        YULIA KHAIRUNNISA               
·        RIYANA                                         
·        MIFTAHUL KHAIR                      
·        NURLINA HARDIYANTINI        
·        UTARI PUSPITASARI  C             
·        ROY ANANDHA M                       
PEMBAHASAN
MENGINGAT, LUPA DAN TRANSFER
Mengingat dan Melupakan
Mengingat adalah proses menerima,menyerap, menyimpan, dan mengeluarkan kembali informasi yang telah diterima melalui pengamatan, kemudian disimpan dalam pusat kesadaran (otak) setelah diberikan tafsiran. Proses mengingat banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu meliputi faktor individu, faktor sesuatu yang harus diingat dan faktor lingkungan. Mengingat adalah segala bentuk upaya untuk merefleksikan dan meretensikan ingatan terhadap apa yang telah disimpan utuh dalam memori. Merefleksikan adalah manifestasi dari berfikir akan segala sesuatu yang telah muncul dalam ingatan nyata, sehingga ia memerlukan tindakan lebih lanjut. Meretensikan adalah menularkan kembali apa yang telah diingat seseorang, atau mencoba menelusuri pengalaman hidup melalui ingatan. Ingatan adalah suatu sistem aktif yang menerima, menyimpan, dan mengeluarkan kembali informasi yang telah diterima seseorang (Coon, 1983). Fungsi ingatan itu sendiri meliputi tiga aktivitas, yaitu :
1.      Mencamkan, yaitu menangkap atau menerima kesan-kesan
2.      Menyimpan kesan-ksan
3.      Mereproduksi kesan-kesan
Ingatan ini sangat selektif dan terdiri dari tiga tahap, yaitu :
1.      Ingatan Sensorik
2.      Ingatan Jangka Pendek (short term memory)
3.      Ingatan Jangka Panjang (long term memory)
Sifat-sifat dari ingatan yang baik adalah: Cepat, setia, kuat, luas, dan siap. Ingatan dikatakan cepat, apabila dalam mencamkan kesan-kesan tidak mengalami kesulitan. Ingatan dikatakan setia, apabila kesan yang telah dicamkan itu tersimpan dengan baik dan stabil. Ingatan dikatakan kuat, apabila kesan-kesan yang tersimpan bertahan lama. Ingatan dikatakan luas, apabila kesan-kesan yang tersimpan sangat bervariasi dan banyak jumlahnya. Ingatan dikatakan siap, apabila kesan-kesan yang tersimpan sewaktu-waktu mudah direproduksikan kea lam kesadaran.
Soal mengingat dan lupa dalam psikologi biasa dikemukakan dengan satu pengertian, yaitu “retensi”. Retensi menunjukkan hal mengingat dan lupa yang keduanya hanya merupakan sudut tinjauan yang berbeda tentang sesuatu yang satu. Untuk mengatasinya, maka bahan yang ingin kita ingat dengan baik harus diulang-ulang sacara terus-menerus. Untuk itu subjek mampu membagi dan memanfaatkan waktu dengan baik. Dalam hal mengingat, orang sering mengalami kesulitan yang disebabkan karena adanya “interferensi”. Interferensi adalah hambatan ingatan atau belajar akibat masuknya bahan-bahan yang terdahulu.
Dalam mereproduksi ada dua macam reproduksi, yaitu :
1.      Mengingat kembali (recall); dalam hal ini tidak ada objek yang dipakai untuk merangsang reproduksi, misalnya mengingat ciri-ciri benda yang sudah tidak ada atau hilang.
2.      Mengenai kembali (recognition); dalam hal ini ada sesuatu objek yang dipakai sebagai perangsang untuk mengadakan reproduksi.

Fenomena lupa dapat terjadi pada siapa pun. Tidak seluruhnya pengalaman tersimpan dalam memori. Menurut Gulo dan Rebber lupa adalah ketidak mampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialaminya. Dan menurut salah seorang ahli psikologi lupa adalah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau mereproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah dipelajari. Mungkin saja ada beberapa orang yang frustasi, karena sering sekali mengalami lupa pada hal sudah berusaha untuk mengingat apa yang telah dipelajarinya. Sehingga seringkali timbul pertanyaan-pertanyaan dari dalam diri siswa untuk apa belajar kalau nantinya tidak dapat diingat kembali atau lupa jua. Dan siswa cenderung menganggap bahwa lupa adalah sebagai musuh besar.


Perihal Lupa
Banyak orang berpendapat lupa itu terjadi disebabkan oleh lamanya waktu antara terjadinya pengalaman dengan terjadinya proses ingatan. Karena telah lama, maka mudah untuk dilupakan. Setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut, ternyata pendapat tersebut tidak benar.
 
Ada beberapa cara yang menerangkan proses terjadinya lupa tersebut, di antaranya adalah:
  1. Cara memasukkan atau belajar kurang tepat.
  2. Kekuatan menyimpan (retensi) yang kurang baik
Lupa sebenarnya menyangkut dengan penggalian ingatan (Long trem memory) penggalian (retrieval) berlangsung sesudah materi pelajaran diolah (enconding) dan dimaksukkan dalam LTM (storage).
Selama proses belajar berlangsung siswa membutuhkan hasil penggalian dari ingatannya pada saat:
  1. Unit pelajaran (“working memory”)
  2. Hasil belajar yang akan diterapkan diluar lingkup bidang studi yang bersangkutan
  3. Harus memberikan prestasi pada akhir proses belajar.

Terjadinya lupa dapat ditinjau melalui fase menggali dan fase prestasi, karena dalam kedua fase itu dapat terjadi kesulitan dalam penggalian (retrieval) “keluar” menyangkut fase konsentrasi, karena semua unsure dalam materi pelajaran yang tidak relevan tidak akan diperhatikan lagi
Dalam belajar, lupa kerapkali dialami dalam bidang belajar kognitif, di mana anak didik harus banyak “belajar verbal”, yaitu belajar yang menggunakan bahasa.
Lupa Versus Hilang
Hasil penelitian dan refleksi atas pengalaman belajar di sekolah memberikan petunjuk bahwa sesuatu yang pernah dicamkan dan dimasukkan dalam ingatan, tetap menjadi milik pribadi dan tidak menghilang tanpa bekas dan mengendap kealam bawah sadar. Penggalian kesan-kesan terpilih bisa karena kekuatan “asosiasi” atau bisa juga karena kemauan yang keras melakukan “reproduksi” dengan pengandalan konsentrasi. Tepat apa yang pernah dikemukakan oleh Gulo (1982) dan Reber (1988) bahwa lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. (Muhibbinsyah, 1999:151) Jadi, lupa bukan berarti hilang. Sesuatu yang terlupakan tentu saja masih dimiliki dan tersimpan di alam bawah sadar, sedangkan sesuatu yang hilang tentu saja tidak tersimpan di alam bawah sadar. Lupa adalah fenomena psikologis, suatu proses yang terjadi di dalam kehidupan mental. Ingatan sering dianggap sebagai suatu kemampuan atau kepastian yang  bersifat umum. Misalnya intelegensi atau kemampuan intelektual, yang sedikit banyak berdiri sendiri.
Faktor faktor lupa
Ø  Karena apa yang dialami itu tidak pernah digunakan atau diingat lagi.
Ø  Adanya hambatan-hambatan yang terjadi karena gejala-gejala isi jiwa yang lain
Ø  Represi atau tekanan.Karena selalu mengalami tekanan, maka lama kelamaan menjadi lupa

Dalam literature ilmiah yang membahas sebab-sebab terjadinya lupa, dapat ditemukan berbagai pandangan antara lain adalah:
a.       Menurut Woodworth, gejala lupa disebabkan bekas-bekas ingatan yang tidak lama     kelamaan akan terhapus, dengan berlangsungnya waktu, terjadinya proses penghapusan yang mengakibatkan suatu bekas ingatan menjadi kabur dan lama kelamaan hilang sendiri. Pandangan ini dikaitkan dengan proses fisiologis yang belangsung pada sel-sel otak, digambarkan bahwa pada saat fiksasi, kesan-kesan yang dicamkan ini diterima dan ditanamkan dalam struktur fisik sel-sel otak.
b.      Pandangan yang lain menunjukkan pada suatu motif tertentu, sehingga orang sedikit banyak mau melupakan sesuatu, misalnya kejadian atau peristiwa yang tidak menyenangkan lebih mudah dilupakan dari pada yang menyenangkan. Jadi, disini terdapat pegnaruh dari motivasi terhadap penyimpanan.inilah kasus lupa yang berformatif.

Kedua pandangan yang dijelaskan di atas mengandaikanbahwa terjadinya sesuatu selam fase penyimpanan (retensi), sehingga penggalian (evokasi) menjadi lebih sukar.



Faktor-faktor penyebab lupa yang lain menurut Muhibbin Syah adalah :
a.       Lupa karena perubahan situasi lingkungan
b.      Lupa karena perubahan sikap dan minat
c.       Lupa karena perubahan urat saraf otak
d.      Lupa karena kerusakan informasi sebelum masuk ke memori

Kiat Mengurangi Lupa
Kiat terbaik untuk mengurangi lupa adalah dengan cara meningkatkan daya ingat akal siswa. Banyak ragam kiat yang dapat dicoba siswa dalam meningkatkan daya ingatannya, antara lain menurut Barlow (1985), Reber (1988), dan Anderson (1990), adalah sebagai berikut:

a.      Overlearning
Overlearning (belajar lebih) artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu. contoh yang dapat dipakai untuk over learning, antara lain pembacaan teks Pancasila pada setiap hari Senin memungkinkan ingatan siswa terhadap teks Pancasila lebih kuat.
b.      Extra Study Time
Extra study time (tambahan waktu belajar) adalah upaya penambahan alokasi waktu belajar atau penambahan frekuensi (kekerapan) aktivitas belajar.
c.       Mnemonic Device
Mnemonic device artinya muslihat yang dapat membantu ingatan. Sering juga hanya disebut mnemonic (baca: ni’manik). Ini adalah kiat khusus yang dijadikan “alat pengait” mental untuk memasukkan informasi-informasi ke dalam system ingatan anak didik. Muslihat mnemonic ini banyak ragamnya, yang paling menonjol adalah sebagaimana terurai di bawah ini:
·         Rima ( Rhyme ), yaitu sajak yang dibuat sedemikian rupa yang isinya terdiri atas  kata dan istilah yang harus diingat siswa.  Contohnya seperti nyanyian anak-anak TK yang berisi pesan-pesan moral.
·          Singkatanyakni terdiri atas huruf-huruf awal nama atau istilah yang harus diingat siswa .
·         System kata pasak (peg word system), yakni sejenis teknik mnemonic yang  menggunakan komponen-komponen yang sebelumnya telah dikuasai sebagai pasak (paku) pengait memori baru. Kata komponen pasak ini dibentuk berpasangan yang memiliki kesamaan watak (baik itu warna, rasa, dan seterusnya). Misalnya langit-bumi; panas-api; merah-darah; dan seterusnya.
·         Model Losai ( Method of Loci ), yaitu kiat mnemonik yang menggunakan tempat-tempat khusus dan terkenal sebagai sarana penempatan kata dan istilah tertentu yang harus diingat siswa. Kata “Loci” sendiri adalah jamak dari kata “lokus” yang artinya tempat. Contoh: nama ibukota Amerika Serikat untuk mengingat nama presiden pertama negara itu (George Washington).
·         Sistem Kata Kunci ( Key Word System ), kiat yang satu ini masih tergolong baru dibandingkan kiat-kiat yang lainnya .
d.      Clustering (Pengelompokkan)
Maksud kiat pengelompokkan (clustering) adalah menata ulang setiap materi menjadi kelompok-kelompok kecil yang dianggap lebih logis sehingga mudah untuk dihafalkan.
e.       Latihan Terbagi
Lawan latihan terbagi (distributed practice) adalah latihan terkumpul (massed practice) yang sudah dianggap tidak atau kurang efektif, karena mendorong anak didik melakukan “cramming” (belajar tergesa-gesa). Dalam latihan terbagi anak didik dapat menggunakan berbagai pendekatan dan metode sebagai strategi belajar yang efisien dan efektif. Upaya demikian dilakukan untuk menghindari cramming, yakni belajar banyak materi secara tergesa-gesa dalam waktu yang singkat.
f.        Pengaruh Tak Tersambung
Untuk memperoleh efek positif dari pengaruh letak bersambung (the serial position effect), siswa dianjurkan menyusun daftar kata-kata (nama, istilah, dan sebagainya) yang diawali dan diakhiri dengan kata-kata yang harus diingat .
W. S. Winkel (1989:299) mengemukakan  usaha-usaha mengurangi lupa yang dapat dilakukan oleh anak didik dan guru :
a.       Motivasi belajar yang kuat di pihak anak didik.
b.      Fase konsentrasi
c.       Fase pengolahan,
d.      Pada fase penggalian dan fase prestasi .

Menurut riset tentang daya ingat dan kelupaan, fator – faktor penyebabnya adalah :
1.      Gangguan
Salah satu alasan penting mengapa orang lupa adalah gangguan (Anderson, 1995; Dempster & Corkill, 1999). Gangguan (interference) terjadi ketika informasi bercampur-baur, atau disingkirkan oleh informasi lain.
2.      Hambatan Retroaktif
Gangguan ini terjadi ketika informasi yang dipelajari sebelumnya hilang karena informasi tersebut tercampur dengan informasi baru dan agak mirip. Ada dua cara untuk mengurangi hambatan retroaktif bagi siswa. Yang pertama adalah dengan tidak mengajarkan konsep yang mirip dan membingungkan terlalu dekat dari segi waktu. Kedua ialah menggunakan metode yang berbeda untuk mengajarkan konsep yang mirip. Cara terbaik untuk memastikan penyimpanan jangka panjang bahan yang diajarkan di sekolah ialah memastikan bahwa siswa telah menguasai bagian-bagian penting bahan tersebut. Hal ini berarti sering menilai pemahaman siswa dan mengajarkan kembali kalau ternyata siswa belum mencapai tingkat pemahaman yang memadai.
3.      Hambatan Proaktif
Hambatan proaktif (proactive inhibition) terjadi ketika pembelajaran suatu bagian informasi mengganggu pembelajaran informasi berikutnya.
4.      Perbedaan Masing-Masing Orang dalam Perlawanan terhadap Gangguan
5.      Fasilitasi
6.      Efek Kepertamaan dan Kebaharuan
Lebih sering mengingat bagian awal dan akhir suatu materi yang diberikan. Untuk memanfaatkan ini, guru dapat mengorganisasikan pelajaran mereka untuk menempatkan konsep-konsep baru yang terpenting lebih dulu dalam pelajaran tersebut dan kemudian meringkaskan pada akhirnya.
7.      Otomatisasi

     


Transfer Belajar

Pengertian Transfer Belajar

Dalam psikologi, transfer belajar atau transfer of learning merupakan istilah yang sudah  baku dan masyhur. Pembahasan masalah transfer belajar yang ditinjau dari segi bahasa seperti disebutkan di atas cenderung kurang mengundang perdebatan di antara para ahli psikologi. Kecuali bila pembahasannya diarahkan pada masalah konsep yang memberikan batasan tentang transfer belajar sebagai suatu teori, maka terdapatlah perbedaan rumusan di antara para pakar psikologi, seperti uraian berikut.

a.       Alice Crow mengatakan bahwa transfer belajar adalah “the process of carrying over habits of thinking, know-ledge, or skill from one learning area to another”.
b.      Herbert Sorenson dalam bukunya Psychology in Education menyatakan bahwa transfer adalah the process by which something learned in one situation is used in another.
c.       William Clark Traw mengatakan bahwa Transfer in the name for the fact that the experience of learning in one situation influences learning and performance in other situation.
d.      Menurut W.S. Winkel 1999 dalam bukunya “Psikologi Pengajaran” bahwa transfer belajar berasal dari bahasa Inggris “Transfer of Learning” atau “Transfer of Training” yang berarti pemindahan atau pengalihan hasil belajar yang diperoleh dari bidang studi yang satu ke bidang studi yang lain atau ke kehidupan sehari-hari di luar lingkup pendidikan sekolah.
e.       Menurut L.D. Crow dan A. Crow, transfer belajar adalah pemindahan-pemindahan kebiasaan berfikir, perasaan atau pekerjaan, ilmu pengetahuan atau keterampilan, dari suatu keadaan ke keadaan belajar yang lain.

Transfer merupakan aplikasi yang efektif bagi kinerja seseorang dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang di peroleh selama belajar. Pengetahuan dan keterampilan seseorang sebagai hasil belajar pada masa lalu sering kali mempengaruhi proses belajar yang sedang dialaminya sekarang. Inilah yang disebut transfer dalam belajar. Transfer dalam belajar yang lazim di sebut transfer belajar (transfer of learning) mengandung arti pemindahan keterampilan hasil belajar dari satu situasi ke situasi lainnya (Reber: 1998).

Beberapa Teori Transfer Belajar

a.       Teori Disiplin Formal
Pada umumnya teori disiplin formal berpendapat bahwa ilmu pasti dan ilmu hitung bahasa yunani kuno dan bahasa latin merupakan mata pelajaran yang paling baik untuk mendisilin pikiran. Pandangan teori disiplin formal mengenai mata pelajaran bagi jiwa dapat di analogikan dengan gerak badan bagi jasmani.
                                                   
b.      Teori Komponen-Komponen Identik ( Thorndike )
Teori Identical Element dan Identical Components dikemukakan oleh Thorndike. Thorndike mempunyai pendapat yang sama dalam memendang transfer belajar.

c.       Teori Generalisasi                                                                                                                   
Charles judd (1873-1946) yang berpendapat bahwa transfer belajar lebih berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menangkap struktur pokok, pola, dan prinsip-prinsip umum.
Perbedaan antara teori generalisasi dengan teori Thorndike yaitu Teori Thorndike mementingkan unsure yang identik sedangkan Teori generalisasi mementingkan mempergunakan prinsip.

Transfer sebagai Berfungsinya Hubungan adalah bisa tidaknya timbul transfer tergantung pada hubungan atau relasi yang telah dipelajari antara aktivitas-aktivitas yang mendahului dan yang mengikuti.




Ragam transfer belajar
Muhibbin Syah (1999: 144) dengan mengutip pendapat Robert M. Gagne seorang education psikologis (pakar psikologi pendidikan)  mengemukakan empat macam transfer belajar, yaitu :
a.       Transfer positif yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar selanjutya. Terjadi karena hasil pembelajaran yang satu menunjang hasil pembelajaran yang lainnya.
b.      Transfer negatif yaitu transfer yang berefek buruk terhadap kegiatan selanjutya. Hasi pembelajaran yang satu sukar ditransfer karena ada perbedaan.
c.       Taransfer vertikal yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar pengetahuan atau keteramplan yang lebih tinggi. Contohnya, ketika seorang anak SD belajar mengenai penjumlahan dan pengurangan maka ia akan lebih mudah belajar perkalian di kelas berikutnya.
d.      Transfer lateral yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar pengetahuan atau keterampilan yang selanjutya. Contohnya, seorang siawa STM yang telah menguasai teknologi “X” dari sekolahnya akan mudah menggunakan teknologi itu di tempat kerjanya.

Struktur Kognitif dan Transfer Belajar

Dalam pengertian yang lebih umum dan jangka panjang, variable “struktur kognitif” merupakan substansi serta sifat organisasi yang signifikan terhadap keseluruhan pengetahuan anak didik mengenai bidang studi tertentu, yang mempengaruhi prestasi akademis dalam bidang pengetahuan yang sama di masa mendatang.
Dalam pengertian yang lebuh khusus dan jangka pendek, variable “struktur kognitif” merupakan substansi serta sifat organisasi konsep-konsep dan hal-hal yang lebih relevan di dalam struktur kognitif, yang mempengaruhi belajar dan pengingatan unit-unit kecil materi pelajaran baru yang berhubungan.

Nilai Transfer dalam Praktek Kependidikan dan Pengajaran

Perhatian guru harus ditujukan dengan sungguh-sungguh ke arah kesamaan-kesamaan yang ada antara pengalaman-pengalaman di dalam dan di luar sekolah. Pengertian pemahaman, dan generalisasi yang berguna harus menjadi bagian tak tepisahkan dari pekerjaan mengajar. Anak didik harus dibantu untuk mengembangkan titik pandang kea rah kehidupan di luar sekolah, baik untuk masa sekarang, maupun untuk masa-masa yang akan dating, sehingga ia dapat menyesuaikan diri terhadap tuntutan hidup yang selalu berkembang.

Peranan Guru dalam Meningkatkan Transfer

Kurikulum sekolah yang telah banyak menyajikan sejumlah mata pelajaran untuk dipelajari oleh anak didik, adalah menuntut sejumlah guru yang masing-masing memegang mata pelajaran, sesuai dengan bidang keahliannya agar dapat dengan mudah dan jelas menanamkan pengertian tentang kaidah, prinsip, dan dalil dalam mata pelajaran tersebut ke dalam struktur kognitif anak didik, sehingga hasil belajar dalam mata pelajaran itu dapat ditransfer untuk memperoleh pengetahuan atau keterampilan dalam mempelajari mata pelajaran yang lain. Guru harus menjelaskan bahwa mata pelajaran yang dipelajari di sekolah akan bernilai guna dalam kehidupan di masyarakat. Penjelasan tentang nilai guna mata pelajaran akan meningkatkan transfer dalam belajar. Itulah hasil belajar yang produktif, tepat guna, dan berguna bagi masyarkat dan bagi anak itu sendiri.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Transfer Belajar

a.       Taraf Inteligensi dan Sikap
Faktor ini berasal dari anak didik, dan berkisar pada masalah kapasitas dasar, sikap, minat anak didik, dan lain sebagainya. Individu yang lancar dan pandai biasanya segera mampu menganalisa dan dapat melihat hubungan logis, ia segera melihat unsur-unsur yang sama serta pola dasar atau kaidah hukum, sehingga sangat mudah terjadi transfer.
b.      Metode Guru dalam Mengajar
Faktor ini berasal dari guru dan berkisar antara lain pada penguasaan persiapan, alat peraga, pemilihan bahan, dan sebagainya. Pendidik yang senantiasa menunjukkan hubungan antara suatu pelajaran yang sedang dipelajari dengan mata pelajaran yang lain atau dengan menunjuk kehidupan nyata yang dialami anak, biasanya akan mudah terjadi transfer.
c.       Isi Mata Pelajaran
Hubungan antara mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lain menjadi penengah yang dapat menimbulkan transfer dalam belajar. Biasanya mata pelajaran yang mempunyai daerah berdekatan akan mudah terjadi transfer. Contohnya: Matematika dengan Statistika, Ilmu Jiwa Daya dengan Sosiologi akan lebih mudah terjadi transfer.
d.      Sikap
Meskipun orang mengerti dan memahami sesuatu serta hubungannya dengan yang lain, tetapi pendirian/kecenderungannya menolak/sikap negatif, maka transfer tidak akan terjadi, dan demikian sebaliknya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar